Cek sekarang! Harga emas hari ini paling update

4 Perusahaan Startup Pilih PHK Karyawan Di Masa Pandemi

Sejak Maret 2020 lalu pandemi Covid-19 mengancam dunia dan tidak terkecuali Indonesia, hal ini mengakibatkan gelombang PHK cukup tinggi bahkan hingga sekarang per Juni 2020. 

PHK juga mengancam sejumlah karyawan di perusahaan startup yang melakukan pemberhentian massal. 

jika sebelumnya perusahaan travel online Traveloka sudah memberhentikan sejumlah karyawan kini perusahaan penginapan OYO juga melakukan hal yang sama. 

Alasannya tentu karena kondisi pandemi hingga saat ini yang belum bisa diatasi. Kini perusahaan ojek daring grade juga melakukan hal yang sama yaitu memangkas ratusan karyawannya. 

Lalu saat ini giliran perusahaan Gojek. Gojek melakukan sejumlah PHK adalah karena menurunnya permintaan konsumen pada divisi-divisi tertentu yang ikut menyebabkan turunnya pendapatan perusahaan tersebut. 

Gojek sudah melakukan pemangkasan 130 karyawan dan juga menghentikan beberapa layanan. Seperti GoMassage, GoClean, dan juga GoFood Festival.

Hal ini dilakukan karena perubahan perilaku masyarakat Indonesia di tengah pandemi. Kini warga semakin waspada terhadap aktivitas yang melibatkan adanya kontak fisik atau kegiatan yang tidak memungkinkan untuk melakukan physical distancing. 

Lalu Grab juga melakukan PHK massal kepada karyawannya sebanyak 360 orang di Asia tenggara. Jumlah ini juga termasuk PHK bagi karyawan di Indonesia. 

Sementara itu hotel budget OYO, memangkas sekitar 5000 karyawan di sejumlah negara. Ini akibat imbas dari penyebaran virus Corona yang membuat bisnis pariwisata dan penginapan sangat turun drastis sejak akhir tahun 2019 kemarin.

Sementara itu setelah larangan bepergian Traveloka juga mengalami pendapatan yang sangat menurun. Akibatnya perusahaan travel ini melakukan PHK pada 100 karyawannya atau 10% dari total keseluruhan pegawai yang ada.

Di sisi lain, start up point of sale di Indonesia juga mengalami tantangan berat di era  transisi menuju new normal.

Meski transaksi online di berbagai marketplace semakin populer. Tapi nyatanya masih sekitar 96% transaksi total di Indonesia dilakukan secara offline.

Bermunculannya startup point of sales, membantu para pengusaha untuk melakukan transaksi dan pembayaran secara online.

Selain itu juga bisa mengelola inventaris, analisa hingga mengerjakan berbagai laporan. Meski awalnya startup ini berjalan dengan bagus tapi di era new normal banyak startup justru mengembangkan sistem point of sales (POS) sendiri dan menawarkan layanannya tersebut pada ekosistem masing-masing. 

Misalnya saja seperti Tokopedia yang mengembangkan software POS sendiri dan menawarkan layanan tersebut kepada mitra penjual mereka.

Namun di masa pandemi Covid-19 ini, Tokopedia terpaksa harus menunda pengembangan software ini. Sebagai gantinya marketplace tersebut fokus pada pengembangan bisnis e-commerce. 

Hal serupa juga berlaku pada Payfazz, perusahaan pembayaran berbasis agen ini sudah mengembangkan dua sistem POS. Salah satunya yaitu fitur yang ditambahkan ke aplikasi agen. Aplikasi ini dikembangkan untuk para penjual offline.

Sementara itu, Warung Pintar yang merupakan salah satu startup juga berambisi untuk mengubah warung tradisional menjadi pintar.

Bahkan menyediakan software Moka kepada para pemilik warung. Namun sayangnya Moka ini tidak sesuai dengan karakter pemilik warung yang umumnya masih gagap teknologi.