Cek sekarang! Harga emas hari ini paling update

Akan Tutup Pasar, BI “Rupiah Akan Menguat Ke 13 ribu/USD”

Perdagangan hari Kamis, 28 Mei kemarin rupiah tidak berhasil menguat malah merosot tipis ke Rp. 14.715 per dolar Amerika. Namun BI telah memberikan pernyataan bahwa stagnannya rupiah pada level Rp. 14.700 merupakan tanda yang baik.

Pasalnya rupiah sempat berada pada level Rp. 16.000 per dolar Amerika pada pertengahan Maret yang lalu. Dan berada pada level harga Rp. 13.000 per dolar Amerika pada akhir Januari yang lalu. Badai Covid-19 ini nyatanya mampu dilewati rupiah dan terus menguat kembali dari jurang level Rp. 16.000

Memang pasangan kurs dolar Amerika dengan rupiah Indonesia bukanlah pair mata uang utama di pasar spot. Sehingga likuiditasnya kalah dengan pair mata uang yang lain seperti EURUSD atau USDJPY. Sehingga trend penguatan atau penurunan rupiah tidak sekuat pada pair mata uang yang lain.

Sentimen selama bulan Mei ini rerata memberikan dampak positif pada penguatan rupiah. Salah satunya rilis data catatan devisa awal mei lalu yang membuat rupiah langsung naik ke level Rp. 14.800-an per dolar Amerika.

Kemudian rilis kebijakan BI terkait suku bunga yang masih dipertahankan di 4,5%. Setelah rilis kebijakan ini di pertengahan pekan bulan Mei ini langsung disambut baik oleh pelaku pasar dengan naiknya sentimen positif untuk rupiah.

Sentimen negatif selama Mei ini sebagian besar dipengaruhi oleh meruncingnya perang dagang antara Amerika dengan China.

Kondisi ini membebani secara psikologi bagi para pelaku pasar Asia yang secara tidak langsung ditekan oleh Trump untuk meninggalkan China. Rupiah berkali-kali harus mengalami penurunan ke level Rp. 14.800-an yang semula sudah lepas ke Rp. 14.680 per dolar Amerika.

Penurunan nilai tukar terhadap dolar tentunya tidak hanya terjadi pada rupiah saja. Mata uang kurs negara Asia lainnya juga mayoritas mengalami hal yang sama. Rupiah malah sedikit lebih untung karena beberapa hari libur sehingga tidak terkena badai sentimen negatif selama lebaran.

Menutup perdagangan Mei kali ini BI memberikan sentimen positif melalui pernyataan gubernur BI Perry Warjiyo. Pernyataan tersebut dikeluarkan melalui video conference terkait langkah BI dalam menguatkan rupiah selama pandemi corona.

Perry Warjiyo mengatakan bahwa rupiah saat ini masih di bawah harga fundamental. Sehingga potensi penguatan masih tinggi walaupun saat ini masih stagnan di angka 14.700-an.

Rupiah pernah menyentuh harga tertinggi di level Rp. 16.000-an dan harga terendah yaitu Rp. 13.800-an. Dan rupiah akan menuju harga tersebut apabila sentimen pasar terus membaik untuk rupiah.

Saat ini prediksi pelemahan rupiah akan tertahan oleh Fibonacci Retracement di level 61% atau pada level Rp. 14.730. Sehingga penurunan rupiah tertahan hanya sampai angka Rp. 14.800-an. Namun apabila rupiah lepas dari garis tersebut rupiah siap lepas landas dan menguat bisa sampai level terendah bulan Januari yaitu Rp. 13.000-an.