Moneyfazz
Home » Berita Utama » Akibat Covid, Rupiah Terus Melemah dan Terbawah se-Asia

Akibat Covid, Rupiah Terus Melemah dan Terbawah se-Asia

Kasus positif covid pasca pelaksanaan new normal di Indonesia terus bertambah dan belum ada titik terang kapan akan terjadi penurunan. Kondisi ini memicu kekhawatiran publik terkait bagaimana keseriusan pemerintah dalam menangani masalah ini.

Krisis ekonomi global akibat covid-19 semakin kesini menunjukkan pemulihan di berbagai wilayah. New normal diyakini bisa menjadi obat untuk ekonomi namun diyakini juga membuat kasus semakin meningkat. Indonesia berada pada kondisi ini, tercatat ada kenaikan jumlah kasus per hari setelah new normal diberlakukan.

Amerika sendiri saat ini masih menggenjot penelitian vaksin di negaranya. Walau sudah ada klaim vaksin namun belum teruji untuk penggunaan masal.

Sedangkan indeks dolar Amerika sendiri mengalami tren menurun mulai dari tengah Maret yang lalu. Sehingga peningkatan ekonomi di Amerika akan memicu sentimen positif terhadap dolar.

Indeks dolar per tanggal 11/06 naik 0,16% pada pukul 21:00 WIB. Hal ini menunjukkan dolar pada kondisi yang prima dihadapkan mata uang negara lain.

Namun kondisi aset saham Amerika hari ini berbanding terbalik dengan kondisi indeks dolar. Sentimen yang tercipta saat ini akibat naiknya kasus covid-19 di sana, investor nampak kaku dan membuat sebagian besar aset-aset saham Amerika hari ini menurun.

DJI pada hari ini turun 3,06%, Nasdaq turun sebanyak 1,70%, sedangkan S&P 500 pada hari ini turun sebanyak 2,57%.

Kondisi covid-19 di Indonesia sendiri saat ini juga belum menunjukkan bakal turun secara data. Malahan, dengan diberlakukannya new normal kali ini menambah jumlah kasus positif di dalam negeri. Para pemerhati pemerintahan terkait kebijakan yang dibuat pemerintah mempertanyakan apakah new normal menjadi pilihan yang baik.

Salah satu ekonom senior Faisal Basri menyebutkan bahwa kondisi menguatnya rupiah setelah anjlok pada Maret lalu berkat surat utang yang diterbitkan oleh negara.

Hal ini memicu naiknya modal asing yang masuk ke aset tanah air. Dengan naiknya arus modal ini juga memicu kenaikan value dari rupiah.

Namun hal ini tidak bisa dalam jangka waktu yang lama. Karena kondisi tanah air yang masih carut marut soal corona, asing diprediksi bakal menarik modalnya besar-besaran pada bulan Juli mendatang.

Menurut Faisal Basri apabila rupiah ingin naik maka ini semua tergantung dari BI. Dimana Perry Warjiyo harus berani ambil keputusan untuk menarik kembali surat utang tersebut dan mengorbankan Cadev. Sehingga value rupiah kembali naik daripada hanya bergantung pada modal asing.

Turunnya rupiah di penghujung akhir pekan ini memang bisa menjadi tanda yang tidak baik. Pasalnya rupiah sudah balik di atas level psikologis Rp. 14.000 per dolar Amerika atau naik sebanyak 2,27% pada hari ini ke level Rp. 14.237 per dolar Amerika.

Add comment

Tinggalkan komentar Anda

Tentang Kami

Untuk informasi kerjasama bisa menghubungi usadailymomenz[at]gmail.com