Moneyfazz
Trading-Chart
Home » Berita Utama » AS dengan China Memanas Lagi, Rupiah Jadi Korban Kembali

AS dengan China Memanas Lagi, Rupiah Jadi Korban Kembali

Amerika dengan China kembali memanas hari ini setelah asisten presiden Amerika melontarkan statement negatif untuk China serta hubungan kedua negara tersebut. Hal ini tentu saja memberikan dampak di pasar spot Asia termasuk Rupiah.

Perseteruan antara Amerika dengan China dalam perdagangan semakin memanas, hal ini bermula saat Trump bersikeras bahwa china bertanggung jawab soal corona. China pun dalam hal ini terus bertahan dan memberikan pernyataan bahwa Amerika beserta intelijennya membawa virus tersebut ke Wuhan.

Puncak dari kegaduhan kedua negara ini antara Amerika dengan China saling boikot produk ekspor maupun impor. Kemudian kebijakan menaikkan bea jasa ekspor barang antara kedua negara.

Sampai hari ini tidak ada itikad kedua negara bakal menghentikan perseteruan ini yang sebenarnya sudah pernah berdamai pada awal tahun.

Sentimen yang bergulir hari ini berasal dari pernyataan asisten presiden serta Direktur Perdagangan dan Kebijakan Manufaktur Amerika. Yatu Peter Navarro dalam acara “the Story” di stasiun FOX, mengatakan bahwa sudah tidak ada kontrak kerjasama perdagangan antara Amerika dengan China.

Navarro menambahkan bahwa perseteruan ini diakibatkan oleh China sendiri sebelum penandatangan Januari yang lalu. Mereka “China”, saat penandatangan sudah tahu bakal ada virus ini. Kemudian Amerika dibanjiri masyarakat tiongkok setelahnya warga kita banyak yang mati akibat virus ini.

Tentunya melihat pernyataan Navarro tersebut bisa menjadi sinyal yang buruk bagi pasar, utamanya pelaku pasar Asia dengan Amerika akibat tendensi yang semakin panas.

Hal tersebut terjadi pada hari ini, dimana setelah sentimen dari the Fed mendongkrak sentimen pasar investasi yang meningkatkan pergerakan mata uang Asia. Kini hampir keseluruhan aset berbalik arah dan memerah ketika statement tersebut digulirkan.

Namun akibat hal tersebut rupiah tidak begitu beruntung, saat mata uang Asia lain bertahan rupiah harus mengalah di level Rp. 14.250 per dolar Amerika saat penutupan.

Sebenarnya kondisi rupiah saat ini tidak terlalu buruk bila dibandingkan dengan koreksi pada bulan Maret yang lalu. Dimana rupiah sempat terperosok hingga level Rp. 16.000 per dolar Amerika.

Kemudian perbedaan pendapat antara gubernur BI dengan Kemenkeu yang menyoal penstabilan kurs rupiah agar tepat berada pada level yang pas. Hal ini ditujukan sebagai pengaturan penerimaan APBN serta saat pembayaran utang luar negeri yang tentunya kurs rupiah adalah kuncinya.

Sehingga naik turunnya rupiah pada level Rp. 14.000 ini masih terhitung wajar,namun rawan terkena resesi. Hal ini diakibatkan sentimen kenaikan jumlah kasus corona di dalam negeri yang sudah mencapai jumlah 47.896 kasus terkonfirmasi.

Dari hal ini prediksi pelemahan rupiah masih berlaku hingga tembus level Rp. 14.300 pada pekan ini. Dan untuk penguatan bakal mencoba tembus kembali level Rp. 14.000 apabila ada tren yang baik untuk rupiah.

Add comment

Tinggalkan komentar Anda

Tentang Kami

Untuk informasi kerjasama bisa menghubungi usadailymomenz[at]gmail.com