Cek sekarang! Harga emas hari ini paling update

Bangkit Dari Krisis, Sektor Manufaktur Bakal Digenjot Lagi

Krisi akibat corona menyebabkan anjloknya berbagai sektor ekonomi di Indonesia. Anjloknya berbagai sektor tak hanya diakibatkan oleh turunnya kemampuan daya beli masyarakat saja. Namun karena kebijakan pembatasan oleh pemerintah sebelumnya andil atas terjadinya krisis saat ini.

Sektor manufaktur atau sektor ekonomi sekunder menjadi salah satu sektor yang terdampak selama pandemi corona ini.

Hal ini karena sektor manufaktur melibatkan ratusan hingga ribuan pekerja yang tentunya berisiko tertular selama bekerja. Berbeda dengan sektor pertambangan atau pertanian dengan akses kegiatan yang memang terbatas.

Berita yang paling mencuat dari sektor manufaktur adalah terjadinya kasus covid-19 di salah satu pabrik rokok ternama di Indonesia. Kemudian gelombang PHK akibat kekhawatiran penularan lanjutan dari pandemi ini.

Purchasing Manager Index di Indonesia untuk bulan Mei yang lalu mengalami kontraksi yang cukup dalam. Sebelumnya nilai PMI sebagai indikator manufaktur nasional berada pada level 45,3 bulan Mei langsung drop ke level 27,5.

Kontraksi yang cukup dalam tersebut bisa menjadi indikator yang terlihat gamblang bahwa Indonesia benar-benar masuk kategori kritis soal sektor manufaktur.

Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja negara-negara adidaya saja seperti Amerika untuk bulan Mei lalu juga mengalami krisis yang sama. Purchasing Manager Index di Negeri Paman Sam untuk bulan Mei lalu turun dari level 48,5 ke 36,1.

Sedangkan di negeri tirai bambu sendiri sektor manufaktur atau industri sudah kembali beraktifitas. Walaupun masih terkena sentimen dari perang dagang nampak China bakal masi optimis dan bisa balik melawan negeri paman sam soal ekonomi.

Setelah penerapan new normal pada awal Juni ini, geliat sektor ekonomi terlihat di mana-mana. Walaupun belum keseluruhan namun hal ini bisa meningkatkan perputaran roda perekonomian sektor lainnya seperti manufaktur.

Geliat dari sektor manufaktur ini juga diamini oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Beliau mengatakan bahwa sektor manufaktur atau industri di Indonesia saat ini masih tertahan oleh pandemi corona namun sudah muncul geliat.

Geliat sektor manufaktur dipengaruhi kembalinya arus permintaan barang, kemudian pulihnya rantai perindustrian secara global. Serta adanya pengimplementasian program penggunaan dan mencintai produk Tanah Air.

Ketiga poin tersebut bakal mempengaruhi kinerja sektor manufaktur dalam negeri untuk episode kuartal III tahun 2020 ini.

Namun lebih lanjut agara penggenjotan sektor manufaktur atau perindustrian ini bisa maksimal. Kemenperin Agus Gumiwang menyampaikan bahwa seluruh elemen industri yang bakal bekerja kembali saat new normal harus mematuhi protokol kesehatan.

Melihat prospek kedepan dalam menghadapi krisis pandemi ini, sektor manufaktur dilihat dari segi saham juga sudah dilirik oleh Asing.

Tercatat pada perdagangan terakhir pekan kemarin dan naik 1,01% daripada penutupan pada hari sebelumnya. Naiknya saham sektor manufaktur ini tentu bisa menjadi sinyal positif untuk meningkatkan kembali pertumbuhan ekonomi nasional.