Moneyfazz
Home » Berita Utama » Bisnis Amerika Bergeliat, IHSG Mulai Tersandung Aksi Jual

Bisnis Amerika Bergeliat, IHSG Mulai Tersandung Aksi Jual

Berbeda dengan rupiah yang pada hari kemarin mengalami potensi penguatan IHSG pada penutupan hari kemarin mengalami catatan negatif. Hal ini merupakan imbas dari beberapa bisnis di Amerika yang mulai berjalan setelah kabar pelonggaran lockdown.

Pelonggaran tersebut merupakan langkah setelah obat remdisivir diyakini mampu mengatasi corona, walaupun masih dalam tahap uji oleh FDA. Namun beberapa negara bagian Amerika kini sudah mulai melonggar. Selain keyakinan akan obat remdesivir ini, gelombang desakan warga Amerika agar segera bisa beraktivitas kembali juga memiliki pengaruh.

Berbeda dengan perekonomian di Indonesia yang kini mulai terasa semakin menurun pasca beberapa bisnis yang ditutup akibat aturan PSBB. Dipandang dari segi kebutuhan medis ini bisa dikatakan langkah bagus. Namun dari kaca ekonomi hal ini adalah batu sandungan yang cukup besar.

Seperti diungkapkan oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani dalam video conference kemarin mengatakan ekonomi Indonesia masuk tahap waspada. Walaupun sebenarnya masih kategori normal namun melihat data yang ada, menaikkan status ke waspada sangat diperlukan.

Bantu sandungan seperti data pendapatan domestik bruto sebesar kurang lebih 2% yang jauh dari perkiraan. Serta data PMI (Purchasing Manufacture Index) berada pada poin 27,5 untuk bulan April menandakan bahwa telah terjadi perlambatan ekonomi di Indonesia.

Walaupun masih terlihat ada transaksi jual beli di sektor pasar tradisional, namun transaksi kelas besar seperti jual beli bahan baku industri sampai hari ini menurun drastis.

Resiko yang didapat ketika dilaksanakannya PSBB bisa dikatakan separah ini. Stimulus ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah juga masih belum memberi dampak. Di masyarakat sendiri lebih melakukan saving money daripada membeli barang berlebih, takut dampak corona semakin menjadi.

Kondisi tersebut dari pertengahan April yang lalu IHSG tersandung oleh aksi jual oleh investor asing. Aksi net shell pada awal pekan ini terhitung sebanyak Rp. 1,88 triliun. Kondisi net sell tersebut sebagai pertanda enggannya pelaku pasar untuk percaya ke bisnis Indonesia.

Selain kondisi dalam negeri keadaan perang dagang antara Amerika dengan China yang semakin memanas juga memberikan dampak. Keadaan tersebut seperti memberikan sinyal waspada kepada negara-negara terdekat dengan China seperti Asia Tenggara.

Trump sudah memberikan kode kepada Presiden Jokowi agar mau mengalihkan kebutuhan pasokan bahan baku farmasi ke selain China. Hal tersebut direspon positif dan akan segera ditindak lanjuti.

Kondisi IHSG untuk sepekan ini akan sangat dipengaruhi oleh data-data terbaru yang akan segera dirilis pekan ini. Seperti data ekspor impor, current account balance, neraca perdagangan.

Data tersebut akan mempengaruhi sentimen pasar kedepannya. Sehingga sebelum data tersebut dirilis ke publik maka akan terjadi aksi wait and see oleh pelaku pasar.

Add comment

Tinggalkan komentar Anda

Tentang Kami

Untuk informasi kerjasama bisa menghubungi usadailymomenz[at]gmail.com