Cek sekarang! Harga emas hari ini paling update

Dipangkas Suku Bunga, Obligasi Jadi Buruan Investasi Asing

Obligasi menjadi salah satu pendorong asing untuk masuk ke dalam negeri. BI terus mengupayakan agar asing berminat untuk membeli obligasi di dalam negeri. Salah satunya dengan cara menurunkan suku bunga acuan 7 Day Reverse Repo Rate.

Pada hari Kamis, Gubernur BI memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan turun sebanyak 25 basis poin atau menjadi 4,25%.

Sebelumnya SBN tanah air menjadi paling diminati selama penjualan pada bulan Mei yang lalu. Hal ini menjadi salah satu pendorong kurs rupiah menguat hingga mencatatkan rally selama beberapa hari sepanjang bulan Mei hingga awal Juni.

Sebelumnya SBN dalam negeri untuk tenor 10 tahunan atau SBN dengan kode FR0082 dijual dengan yield lebih dari 7%. Hal ini menarik minat pasar karena dengan yield yang besar maka menguntungkan investor asing. Apalagi dengan yield tersebut lebih tinggi daripada yield di negara tetangga.

Namun semakin kesini yield akan semakin menurun seiring dengan meningkatnya pembelian yang dilakukan oleh investor.

Penurunan suku bunga acuan yang dilakukan oleh BI ini ditujukan untuk menjaga stabilitas perekonomian selama pandemi. Namun tetap pada batasan agar aliran modal yang masuk masih tinggi dan masih diminati oleh pasar obligasi.

Dan tentunya BI terus mengupayakan seiring diturunkannya suku bunga acuan ini maka juga stabilitas ekonomi di Indonesia akan terus dijaga. Sehingga keyakinan pasar masih akan tetap tinggi untuk berinvestasi di Indonesia.

Tercatat dari data revinitif penjualan obligasi dengan tenor 5 tahunan setelah dinaikkannya suku bunga acuan ini mengalami kenaikan penjualan. Dimana setelah penjualan tersebut tercatat yield turun sebanyak 4,80 basis poin (bps) menjadi 6,75%.

Secara global Indonesia masuk ke 8 besar untuk SBN dengan tenor 10 tahunan. Data ini tentu menunjukkan bahwa pasar investasi masih memiliki kepercayaan yang cukup tinggi ke dalam negeri. Kepercayaan ini terbangun dari tingginya yield SBN dalam negeri yang cukup tinggi daripada negara lainnya.

Tinggi minta asing untuk memborong obligasi dalam negeri menjadi batu loncatan yang bagus selama pandemi ini.

Dimana untuk pemulihan banyak sektor Indonesia akan membutuhkan arus modal yang cukup besar. Sehingga dengan tingginya arus modal yang masuk maka pertumbuhan ekonomi di Indonesia masih akan terlihat cerah.

Efek lainnya yaitu bakal tampak pada kurs rupiah dihadapkan dengan mata uang asing lainnya.

Tingginya permintaan Obligasi dalam negeri maka akan mempengaruhi jumlah nilai value dari mata uang rupiah juga. Semakin investor percaya maka nilai value mata uang juga akan semakin tinggi.

Hal ini bisa menjadi sinyal sentimen yang cukup baik untuk pertumbuhan rupiah. Namun masih ada faktor lain yang diperlukan untuk membangun tren penguatan rupiah selain diborongnya SBN dalam negeri oleh asing.