Cek sekarang! Harga emas hari ini paling update

Yuk, Kenalan dengan Istilah ARA dan ARB Saham untuk Pemula

ara dan arb saham

Baru ingin mulai berinvestasi saham? Bagi Anda yang pemula, Anda akan dihadapkan dengan berbagai istilah asing terkait saham. Salah satunya adalah istilah ARA dan ARB saham. Untuk trader atau investor saham yang telah lama malang melintang dalam aktivitas trading atau investasi saham, kedua istilah tersebut tentu sudah sering didengar dan digunakan. Namun, bagi Anda yang merupakan seorang pemula, pasti akan kebingungan saat mendengarnya.

Penggunaan istilah ARA dan ARB dalam saham berkaitan erat dengan sifat saham yang fluktuatif. Terkadang ada kalanya saham di suatu perusahaan mengalami ARA, tetapi esok harinya ternyata tiba-tiba berganti status menjadi ARB. Nah, agar lebih paham simak penjelasan mengenai ARA dan ARB saham berikut ini.

Pengertian ARA dan ARB

Secara garis beras, ARA merupakan kependekan dari Auto Rejection Atas, sementara ARB adalah Auto Rejection Bawah. Nah, sebelum kita membahas ARA dan ARB, ada baiknya untuk Anda memahami dulu istilah Auto Rejection (AR). Auto Rejection adalah batasan minimum dan maksimum suatu kenaikan dan penurunan harga saham dalam satu hari perdagangan bursa.

ARA

Harga saham tentu bisa bergerak naik, turun, atau tidak bergerak sama sekali dalam satu hari pergadangan saham. Nah, apabila harga suatu saham naik, tentu kenaikan harga saham dalam satu hari ada batasnya. Batas atas yang telah ditetapkan inilah yang disebut dengan ARA.

Mekanisme batas kenaikan saham itu begini, sistem bursa atau yang dikenal dengan Jakarta Automated Trading System (JATS) akan melakukan penolakan secara otomatis terhadap penawaran jual atau beli bila harga saham telah melebihi batasan harga yang ditetapkan Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Jika harga saham A naik melalui batas persentase atas yang ditentukan oleh BEI dalam sehari, saham tersebut akan terkena ARA. Berikut batas persentase ARA sesuai dengan Keputusan Direksi BEI tahun 2020:

Harga Saham AcuanNilai Auto Rejection Atas (ARA)
Rp 50 sampai Rp200>35%
>Rp200 sampai Rp5.000>25%
>Rp5.000>20%

Begini cara membacanya. Misalnya, harga saham A ditutup Rp3.000 per lembar pada perdagangan kemarin. Berdasarkan aturan BEI di atas, maka nilai ARA dari saham tersebut adalah 25%.

Dalam kondisi ini, sistem JATS akan menghitung ARA dari saham A untuk perdagangan hari ini. Kenaikan saham maksimal yang diperbolehkan adalah sebanyak Rp750 (25% dari Rp3.000). Jika melampaui harga Rp3.750, maka saham A akan terkena ARA. Sistem juga akan melakukan penolakan order penawaran yang melebihi harga tersebut.

ARB

Kebalikan dari ARA, ARB adalah penentuan batas minimum penurunan harga sebuah saham. Saat nilai saham sudah mencapai ARB, sistem akan melakukan penolakan untuk semua order pembelian. Berikut batas persentase ARB yang telah ditentukan oleh BEI:

Harga Saham AcuanNilai Auto Rejection Bawah (ARB)
Rp 50 sampai Rp200<Rp50  / <7%
>Rp200 sampai Rp5.000<7%
>Rp5.000<7%

Untuk bisa memahaminya, begini contohnya. Misalnya, harga saham perusahaan A dijual dengan harga Rp2.000 pada penutupan bursa saham kemarin. Berdasarkan tabel BEI di atas, maka batas ARB untuk saham A adalah sebesar 7%. untuk itu, saham tersebut mempunyai ARB sebesar Rp1.860. Apabila saham turun melebihi Rp1.860, maka saham A akan terkena ARB.

Dalam situasi pandemi Covid-19 ini, BEI sempat melakukan koreksi ARB menjadi 10% pada Maret 2020. Namun, koreksi tersebut dianggap belum sesuai, hingga akhirnya terjadi kembali perubahan ARB menjadi 7%. Koreksi ARB saham ini dilakukan oleh BEI karena masa pandemi sangat mempengaruhi performa saham. Bahkan, hampir semua jenis saham yang diperdagangkan mengalami ARB.

Manfaat dari ARA dan ARB Saham

Penetapan ARA dan ARB saham oleh BEI ini ditujukan untuk menjaga pergerakan saham dalam satu hari agar tidak terlalu ekstrim. ARA memastikan kenaikan harga saham tidak terlalu tinggi, sementara ARB memastikan harga saham tidak jatuh terlalu rendah. Selain itu, ARA dan ARB saham juga bermanfaat bagi investor dan perusahaan, lho.

Manfaat untuk Investor

  • Sistem ARA memastikan trader atau pembeli saham melakukan pembelian saham dengan harga yang relatif normal
  • Mekanisme auto rejection, seperti ARA dan ARB dapat melindungi investor
  • Tidak ada harga saham yang merosot terlalu signifikan, sehingga membuat investor rugi besar. Sementara itu, tidak ada juga harga saham yang naik terlalu tinggi dan dimanfaatkan bandar atau pihak-pihak tertentu
  • Perdagangan saham tetap bergerak secara wajar dan sehat
  • Investor bisa berpikir untuk tetap hold saham atau tidak
  • Investor bisa mendapatkan keuntungan saat mampu membeli saham dengan harga murah dan menjualnya secara mahal

Manfaat untuk Perusahaan

  • ARB bisa menjadi perlindungan sistem pada perusahaan dan para penjual saham
  • Auto rejection mencegah nilai saham jatuh ke titik ekstrim, sehingga potensi kerugian akibat harga saham yang rendah bisa diminimalisir

Gimana, apakah Anda sudah semakin paham mengenai sistem ARA dan ARB saham? Saham ARA dan ARB bukanlah pilihan yang bijak bagi trader pemula. Pilihan saham ini lebih sesuai untuk Anda yang telah memiliki pengalaman di bursa saham. Untuk pemula, sebaiknya Anda mempertimbangkan saham yang harganya tidak terlalu fluktiatif.

Agar bisa sukses dalam investasi saham, tentu Anda harus banyak belajar. Jadilah investor saham yang cerdas dan bijak. Tak perlu ikut-ikutan beli saham seperti orang lain karena belum tentu analisisnya benar. Percaya saja pada kemampuan Anda dan selamat mencoba!