Moneyfazz
Home » Berita Utama » Kecemasan Rupiah Memasuki Bulan Juli, Resesi Semakin Nyata

Kecemasan Rupiah Memasuki Bulan Juli, Resesi Semakin Nyata

Mengawali perdagangan pada pekan pertama bulan Juli membuat rupiah dibanjiri banyak spekulasi. Hal ini berkaitan erat dengan ramalan secara data yaitu Indonesia akan memasuki puncak corona pada bulan Juli ini.

Secara pergerakan rupiah masih stabil di antara level Rp. 14.000 dengan Rp. 14.200 per dolar Amerika.

Sedangkan sentimen dari global yakni tekanan dolar semakin menjadi seiring pemulihan ekonomi di negara tersebut. Hal ini tercermin dari pergerakan selama pekan sebelumnya dimana rupiah suli untuk menguat kembali menembus level terendah Rp. 14.000.

Optimisme pasar dengan kekuatan greenback saat ini benar-benar mulai pulih. Dilihat dari aksi bank sentral AS yang terus menerus memberikan stimulus agar value dolar segera pulih.

Kemudian sentimen dari Asia Pasifik rupiah semakin loyo berhadapan dengan mata uang asia lainnya. Hal ini akibat dari sentimen dari dalam negeri yang mana pemerintah belum maksimal soal permasalahan corona. Yang menyebabkan masih tingginya jumlah kasus terkonfirmasi di dalam negeri.

Pekan sebelumnya Indonesia langsung menjadi sorotan akibat menjadi negara dengan jumlah kasus tertinggi yang sebelumnya dipegang oleh Singapura. Sorotan selanjutnya melihat perilaku masyarakat yang sepertinya acuh soal pandemi ini.

Hal tersebut membuat posisi rupiah semakin tertekan karena sedikit demi sedikit kehilangan kepercayaan.

Berbeda dengan kondisi rupiah pada akhir Maret hingga akhir Mei ini. Hal ini secara sentimen pandemi pelaku pasar meyakini Indonesia mampu mengatasi hal ini karena jumlah kasus masih terhitung rendah. Hal ini menguatkan rupiah yang sebelumnya anjlok hingga Rp. 16.000-an sampai pada level Rp. 13.800-an.

Capaian tersebut tentunya lebih dari sekedar isapan jempol gubernur BI yang sebelumnya memproyeksikan rupiah sampai akhir tahun akan berada pada level Rp. 15.000.

Namun semakin kesini sentimen tekanan semakin kuat ditambah proyeksi rupiah setelah rapat Kemenkeu, BI, OJK, serta DPR. Rapat tersebut memutuskan bahwa proyeksi rupiah tahun selanjutnya akan berada pada level Rp. 14.900 hingga Rp. 13.500 per dolar Amerika.

Hal ini ditujukan agar rupiah bergerak lebih stabil dan menguntungkan untuk perancangan pendapatan APBN serta tanggungan Negara seperti utang negara.

Namun dikhawatirkan apabila gubernur BI tidak mengambil keputusan secara tepat terkait modal masuk Asing dalam bentuk SBN akan berakhir pada anjloknya harga rupiah.

Hal ini rawan terjadi mengingat pada bulan Juli ini Indonesia cukup tinggi soal jumlah kasus dan Asing kapanpun siap untuk ancang-ancang kabur dengan keuntungan besar. Sehingga langkah preventif untuk menjaga rupiah dari resesi benar-benar diperlukan.

Seperti yang diungkapkan oleh Faisal Basri dimana Gubernur BI harus tegas untuk membeli kembali SBN yang telah dibawa oleh asing untung menstabilkan harga rupiah.

Update data kasus Covid-19/ Corona Terbaru
Global Total
Last update on:
Cases

Deaths

Recovered

Active

Cases Today

Deaths Today

Critical

Affected Countries

Total in Indonesia
Last update on:
Cases

Deaths

Recovered

Active

Cases Today

Deaths Today

Critical

Cases Per Million

Selengkapnya

Add comment

Tinggalkan komentar Anda

Tentang Kami

Untuk informasi kerjasama bisa menghubungi usadailymomenz[at]gmail.com