Moneyfazz
Home » Berita Utama » Kekhawatiran Sri Mulyani, Rupiah Jangan Terlalu Terapresiasi

Kekhawatiran Sri Mulyani, Rupiah Jangan Terlalu Terapresiasi

Historis data pergerakan rupiah selama dua pekan di akhir kuartal II 2020 ini menunjukkan posisi rupiah yang susah menembus level Rp. 14.000. Walau sudah pernah lewat pada angka tersebut pada awal bulan namun sentimen yang muncul memberi sinyal bertahan.

Saat ini sentimen global yang mengenai rupiah mayoritas seputar sentimen gelombang kedua covid-19. Dan juga terkait dengan sentimen bullishnya dolar terhadap mayoritas kurs mata uang.

Posisi rupiah di posisi level 14.000 bisa dikatakan sudah jauh aman walau masih undervalue sesuai dengan apa yang disampaikan gubernur BI.

Namun kekhawatiran Menkeu apabila rupiah terus digenjot sedangkan ekonomi belum stabil dikhawatirkan akan berimbas pada proyeksi selanjutnya.

Penguatan rupiah saat ini menguat akibat sokongan obligasi serta SBN dengan yield yang cukup tinggi dari Bank Indonesia. Sejumlah pengamat mengatakan ini memang menguntungkan namun ada fakta buruk dibaliknya.

Apabila surat hutang tersebut tidak diamankan maka rupiah bisa saja merosot akibat aksi jual asing dari SBN pada kondisi yang kritis.

Hubungan dengan masa pandemi saat ini rupiah sangat rawan terkoreksi dalam kembali. Hal ini terlihat dari tertahannya selama beberapa hari pada posisi level di atas Rp. 14.000 per dolar Amerika.

Belum lagi sentimen gelombang kedua covid-19 yang dapat dilihat dari statistik jumlah kasus di dalam negeri yang belum menunjukkan penurunan. Tentu saja bisa dibayangkan ketir-ketirnya asing untuk meng-keep rupiah dalam jangka waktu lama.

Maka dari itu Sri Mulyani memproyeksikan apabila rupiah digenjot dengan kuat maka akan rawan aksi ambil untung. Dan dikhawatirkan lagi kondisi tersebut berbarengan dengan kondisi kritis kedua kalinya corona di Indonesia.

Skenario terburuk rupiah bakal terperosok kembali pada level Rp. 16.000-an seperti data historis pada bulan maret lalu.

Saat ini rupiah memang tertahan oleh dolar Amerika pada level keramat Rp. 14.000. Namun dilihat dari performa rupiah selama sepekan melibas mata uang eropa.

Hal ini juga berdasarkan sentimen global yang saat ini lebih condong ke dolar Amerika yang pada saat krisis bisa jadi mata uang safe haven.

Sedang di regional Asia Pasific rupiah terlihat lebih melempem selama pekan ini.

Sentimen di pasar Spot Asia Pasific saat ini tidak jauh dari kondisi pandemi corona. Secara data Indonesia menjadi pemegang rekor kasus terbanyak saat ini lebih tinggi dari Singapura yang sebelumnya menjadi yang tertinggi.

Dengan kondisi yang seperti ini value rupiah menurut Sri Mulyani lebih baik ditahan terlebih dahulu menunggu proyeksi skenario yang lebih baik selanjutnya.

Berdasarkan data historis pekan ini dan beberapa sentimennya proyeksi rupiah di pekan mendatang akan cenderung stagnan.

Proyeksi penguatan rupiah akan menembus level keramat terlebih dahulu. Sedangkan proyeksi pelemahan berkisar pada level Rp. 14.100 hingga Rp. 14.200 per dolar Amerika.

Add comment

Tinggalkan komentar Anda

Tentang Kami

Untuk informasi kerjasama bisa menghubungi usadailymomenz[at]gmail.com