Moneyfazz
Home » Berita Utama » Lebih Parah Dari Retail, Data Pasien Covid Jadi Buruan Hacker

Lebih Parah Dari Retail, Data Pasien Covid Jadi Buruan Hacker

Beberapa bulan ke belakang jagat teknologi Indonesia digegerkan soal kasus pembobolan data di situs marketplace terbesar di Indonesia Tokopedia. Sebelumnya beberapa tahun kebelakang Bukalapak mengalami hal yang sama dimana hampir seluruh data pengguna di jual di situs black market digital.

Sebagian masyarakat tentunya kurang begitu peduli soal data pribadinya karena menganggap data pribadi bukan sesuatu hal yang istimewa. Hal inilah yang menjadikan munculnya masalah seperti penipuan, pembobolan akun bank, hingga peretasan akun sosial media menjadi kian marak.

Kasus pencurian data terbesar sebelumnya dialami oleh facebook dimana situs pihak ketiga yang terintegrasi dengan facebook menjual data penggunanya. Hal ini langsung diperbincangkan di forum global hingga Mark berurusan dengan Hukum Amerika.

Kemudian berdasarkan kasus tersebut muncul undang-undang GDPR atau General Data Protection Regulation atau Regulasi Umum Perlindungan Data. Saat ini terkait perlindungan data di Indonesia dilindungi oleh UU ITE tahun 2016.

Namun bukan berarti hal tersebut menghentikan kasus pencurian data di dunia.

Penjualan data personal saat ini benar-benar semakin marak, biasanya hal tersebut digunakan untuk pemalsuan kartu kredit, hingga digunakan untuk kebutuhan iklan. Hal ini tergantung data apa saja yang didapatkan oleh si pencuri.

Seperti kasus pencurian data di facebook disinyalir untuk digunakan sebagai bahan kampanye digital oleh Trump. Dimana dengan data tersebut Trump bisa menyesuaikan jenis kampanye sesuai dengan minat audiencenya.

Sedangkan kasus bukalapak dan tokopedia dipergunakan untuk mencuri data lain yang berkaitan dengan keuangan atau akun perbankan. Karena di dalam data tersebut tersedia seperti alamat surel, nama pengguna, data pribadi, hingga password yang terenkripsi.

Cara yang dilakukan oleh peretas pun cukup beragam, dilansir dari situs hackerone menemukan bug adalah jalan utama untuk pencurian data. Untuk menemukan bug ini dibutuhkan skill pentest (Penetration Test) karena setiap situs memiliki celahnya masing-masing.

Saat bug ini ditemukan peretas bisa dengan mudah masuk ke dalam sistem dan meng-inject-kan beberapa script untuk mengambil data pengguna situs tersebut. Bila situs tersebut apes biasanya peretas tersebut bakal diacak-acak atau dirubah tampilannya.

Namun saat ini banyak situs marketplace yang semakin marak melakukan bug bounty atau semacam sayembara menemukan bug. Hal ini cenderung lebih aman dilakukan daripada harus kecolongan terlebih dahulu.

Kekhawatiran saat ini terletak pada teknologi komputerisasi medis, dimana jarang sekali yang mampu melakukan hal ini. Seperti kejadian merebaknya virus komputer semacam WannaCry yang menyasar komputer komputer rumash sakit yang memang banyak celahnya.

Dikhawatirkan karena jumlah pasien pandemi corona ini semakin hari semakin tinggi dan keamanan komputerisasi di rumah sakit sangat terbatas. Dan data personal pasien di rumah sakit biasanya memuat data-data yang lebih lengkap daripada data di marketplace.

Add comment

Tinggalkan komentar Anda

Tentang Kami

Untuk informasi kerjasama bisa menghubungi usadailymomenz[at]gmail.com