Cek sekarang! Harga emas hari ini paling update

Menkes Sebut Surabaya, Tidak Perlu Kembali Terapkan PSBB

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyatakan Kota Surabaya tidak perlu lagi kembali menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Padahal angka corona di kota tersebut masih terus meningkat. 

Terawan menyebutkan, PSBB diterapkan atas permintaan pemerintah daerah setempat berdasarkan kesanggupan untuk menerapkannya.

“Tidak perlu. Semua namanya PSBB itu permintaan dari daerah karena menyangkut kesanggupannya dalam penerapannya,”ungkapnya (24/6).

Menurut Menteri Kesehatan keputusan PSBB tidak boleh semena-mena. Setiap pemangku kebijakan di Surabaya harus melakukan diskusi agar kasus Corona dan kasus kematian di wilayah tersebut bisa segera mereda. 

“Tidak boleh semena-mena juga. tinggal di diskusikan aja teknik-teknik apa yang bisa membuat kasus di Surabaya ini bisa mereda, turun dan terutama kasus kematiannya bisa turun, bahkan kalau bisa zero,”tambahnya.

Sebelumnya juga pakar epidemiologi Universitas Airlangga, dr Windhu Purnomo menyatakan tingkat serangan infeksi Corona di Surabaya mengalami peningkatan hingga 75%. Hal ini dilihat setelah masa PSBB dihentikan dua pekan lalu. 

Ini artinya per 100.000 penduduk di Surabaya, ada 150 orang yang terinfeksi Corona. Angka ini membuat daerah Surabaya jadi attack rate tertinggi dibanding kota-kota lain di Indonesia. Hal ini tentu menjadi kondisi puncak gunung es.

Tidak hanya itu saja, tingkat kematian di Surabaya juga masih mengalami peningkatan. Windhu bahkan mengungkapkan Kota Surabaya memiliki angka kematian hingga 7,8 persen.

Angka ini lebih tinggi dari angka nasional yang hanya mencapai 5,6 persen.

Sebelumnya, wacana Kota Surabaya untuk kembali menerapkan PSBB juga sempat mencuat. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Covid-19 Jatim, Joni Wahyuhadi.

 Sementara itu, per Rabu (24/6) kasus Corona di Surabaya Raya ada sebanyak 4.962 kasus. Untuk rincian datanya yaitu jumlah kumulatif untuk orang yang dirawat ada 2.755. 

Sementara untuk pasien sembuh ada 1.838 orang, lalu untuk pasien Corona yang meninggal ada 368 orang. 

Jika dirincikan berdasarkan perawatan dan isolasi, ada 1.728 orang yang melakukan isolasi di rumah. 

Sementara yang melakukan isolasi di gedung ada 353 orang. Lalu 674 dikonfirmasi melakukan isolasi di rumah sakit. 

Untuk pasien dalam pengawasan di Kota Surabaya ada sebanyak 4.617 orang. Lalu untuk pasien yang dirawat ada 2.420 orang. Sementara untuk PDP sehat ada 1.895 orang. Dan PDP meninggal ada 302 orang. 

PDP isolasi di rumah jumlahnya ada 1.260 orang, kemudian untuk PDP isolasi RS ada 1.160 orang. 

Di sisi lain, Presiden Joko Widodo meminta agar pengendalian Corona di wilayah Surabaya Raya agar didahulukan.

Karena daerah ini memiliki angka kasus tertinggi di Jawa Timur. Untuk penanganannya diminta melalui satu manajemen.

“Saya melihat memang yang paling tinggi adalah di Surabaya Raya, ini adalah wilayah aglomerasi yang harus dijaga terlebih dahulu, dikendalikan terlebih dahulu,”ungkap Jokowi (25/6).