Moneyfazz
Home » Berita Utama » Perdagangan Perdana Rupiah Di Bulan Juni, Diprediksi Menguat

Perdagangan Perdana Rupiah Di Bulan Juni, Diprediksi Menguat

Jadwal libur nasional 1 Juni memperingati hari lahir Pancasila, juga meliburkan perdagangan rupiah di dalam negeri. Hal ini membuat rupiah melewatkan penguatan yang terjadi akibat loyonya Dolar pada hari tersebut.

Sentimen yang mempengaruhi rupiah untuk pekan awal sangat tergantung dari rilis data ekonomi di Indonesia. Semasa krisis corona rilis data yang cenderung menurun tersebut tampaknya tidak serta membuat para pelaku pasar spot meninggalkan rupiah.

Potensi dari instrumen IHSG maupun saham utama lainnya, kemudian kebijakan BI, serta berita dalam negeri masih bisa menyokong rupiah. Malah rupiah cenderung menguat dan terus memimpin mata uang Asia terhadap dolar Amerika.

Potensi menurunnya dolar Amerika akibat kerusuhan di Minneapolis serta akibat tekanan penguatan mata uang eropa membuat rupiah berpotensi juga naik.

Namun selama libur kali ini, rupiah juga melewatkan penguatan terhadap mata uang negara tetangga. Terhadap dolar Singapura rupiah alami penurunan sebanyak 0,3% sedang terhadap dolar Australia rupiah juga menurun sebanyak 2.09%.

Penurunan pada hari ini tersebut bisa membebani pergerakan rupiah pada hari esok. Skenario yang dimungkinkan adalah esok pergerakan rupiah akan sedikit lambat pada pembukaan dimungkinkan terjadi trend penguatan apabila dolar terus semakin loyo.

Dilihat dari data Non Deliverable Forward rupiah sebenarnya berpotensi menguat untuk level rupiah pada harga week on week rupiah sudah menguat ke Rp. 14.505 per dolar Amerika.

Kemudian prediksi cadev untuk bulan Mei diprediksi pada kisaran 126 – 128 miliar dolar Amerika. Walaupun hanya sebatas prediksi namun data ini bisa menjadi pemicu agar pelaku pasar spot tertarik untuk membeli rupiah.

Namun skenario terburuk untuk pekan ini bisa saja rupiah akan terdepresiasi kembali ke level 14.700-14.800. Hal ini dimungkinkan pulihnya dolar serta gejolak sentimen perang dagang yang memantik api di pasar Asia.

Atau uji coba new normal fase I di Indonesia menemui titik gelap yaitu meningkatnya kasus corona seperti di Korea Selatan.

Kondisi yang belum pasti seperti ini biasanya lazim terjadi pada awal pembukaan pasar spot. Sehingga mayoritas pelaku pasar akan melakukan wait and see sebelum menentukan pergerakan.

Dilihat dari segi potensi penguatan dibanding dengan segi sentimen negatif yang ada sebenarnya probabilitas rupiah menguat masih tinggi. Seperti yang disampaikan oleh gubernur BI Perry Warjiyo yang mengatakan bahwa rupiah masih berada pada undervalue sehingga tinggi sekali potensi penguatannya.

Dengan kondisi rupiah yang masih undervalue terhadap dolar maka potensi penguatan masih sangat tinggi.

Selain kondisi undervalue rupiah juga telah lewat batas support dari garis imajiner 61% dari hasil penarikan garis fibonacci harga tertinggi Maret dengan harga tertinggi Januari. Sehingga potensi menguatnya rupiah sangat tinggi ketika mengawali masuk pasar hari Selasa untuk bulan Juni ini.

Add comment

Tinggalkan komentar Anda

Tentang Kami

Untuk informasi kerjasama bisa menghubungi usadailymomenz[at]gmail.com