Cek sekarang! Harga emas hari ini paling update

Polemik Harga Gula: Stok Menipis, Gula Petani Belum Terserap

Harga gula pasir masih menjadi polemik, pasalnya sampai 3 bulan ini belum juga turun mendekati harga HET.  Hal ini disayangkan sejumlah pihak termasuk DPR yang melakukan rapat dengan Kemendag terkait polemik harga gula ini.

Terhitung sejak awal masuk pandemi corona di Indonesia harga gula merangkak naik hingga tembus ke harga Rp. 22.000 per kilonya.

Di pasar pasar provinsi pulau Jawa dan Sumatera gula terpantau stabil tinggi di harga Rp. 16.000 hingga Rp. 18.000 per kilonya. Sedangkan di seberang timur Indonesia harga gula jauh melambung hingga lebih dari Rp. 20.000 per kilonya.

HET gula pasir selama ini masih sama yaitu di harga Rp. 12.500 dan belum ada rencana untuk ditinggikan walaupun stok gula menipis. 

Asal usul kenaikan harga berdasarkan temuan satgas pangan POLRI yaitu ulah oknum distributor yang menjual gula di atas HET. Kemudian dari proses distribusi tidak langsung ditujukan ke pasar induk tapi melalui distributor lain hingga beberapa lapis.

Beberapa oknum pemilik distributor tersebut sudah ditangkap dan ditindak usahanya. Namun harga sudah terlampau tinggi di beberapa daerah.

Dilihat dari segi stok gula pasir saat ini memang kekurangan stok. Hal ini diakibatkan terlambatnya pasokan impor sedangkan panen tebu masih jauh.

Salah satunya adalah impor gula dari India yang macet akibat terjadinya pandemi corona ini hingga membuat arus impor terlambat. Pengajuan impor apabila lancar seharusnya pada bulan April lalu sudah lekas dikirimkan namun akibat pandemi ini molor hingga dikirim Juni hingga Juli.

Langkah-langkah telah dilakukan seperti melakukan pasar murah di berbagai pasar induk untuk memancing turunnya harga. Namun sampai hari ini harga gula masih terlampau tinggi. Sedangkan untuk melakukan pasar murah dibutuhkan stok gula yang cukup banyak sedangkan stok tidak bisa memenuhi.

Hal ini lah yang menjadi bahan cecaran DPR kepada Kemendag soal polemik harga gula yang sampai hari ini belum turun juga.

Menteri Buwas ditekan untuk lebih giat lagi soal operasi harga gula agar gula tidak mencekik masyarakat Indonesia.

Menteri Buwas sendiri mengatakan bahwa kenapa masih tinggi harga gula hingga hari ini, yaitu akibat investigasi soal distributor nakal belum menyeluruh. Sehingga masih bebas mengedarkan harga gula di harga yang masih sangat tinggi.

DPR menambahkan saat ini petani tebu sudah memasuki bulan untuk giling. Impor juga sudah datang apabila banjir stok maka bisa menghancurkan nasib petani.

DPR mengatakan bahwa Kemendag harus menekan para importir untuk mau membeli gula dari petani. Agar bisa membantu roda perekonomian di level terbawah. Sehingga ekonomi masyarakat bisa segera pulih dari krisis pandemi ini.