Cek sekarang! Harga emas hari ini paling update

Rupiah Semakin Loyo, Ada Sinyal Bakal Balik Ke Rp. 15.000?

Kondisi pasar spot hari ini untuk rupiah berada pada kondisi seperti lusa yang lalu. Dimana rupiah harus mengalami kontraksi dan kembali menurun kembali.

Keadaan sentimen pasar spot selama sepekan ini benar-benar dipengaruhi oleh data kasus corona terbaru di Indonesia. Walaupun tidak serta merta melonjak kembali dan bertengger di angka Rp. 15.000 per dolar Amerika. Namun ada faktor-faktor yang bisa mempercepat pelemahan tersebut.

Memanasnya perang dagang antara Amerika dengan China membuat beberapa pasokan dari negeri Tiongkok tersebut untuk negara-negara di Asia terhambat. Amerika merencanakan jalur impor baru bagi negara yang masih bergantung kepada China.

Hal tersebut membawa sentimen negatif dimana beberapa bisnis membutuhkan pasokan namun dihambat dan menurun produktivitasnya. Seperti kebutuhan farmasi di Indonesia yang bergantung negeri panda tersebut.

Data ekonomi Indonesia berada pada titik waspada dan data kasus corona meningkat tajam seiring teknik deteksi baru yang digunakan gugus covid-19 di Indonesia. Bertambahnya peningkatan tersebut menjadi alasan mundurnya pelaku pasar dari perdagangan rupiah. Hal ini seperti apa yang dijelaskan Menkeu Sri Mulyani beberapa hari yang lalu.

Kondisi ekonomi lapis bawah terhambat penurunan daya beli akibat tingginya harga barang selama ramadhan dan minimnya pasokan. Menurunnya daya beli mengakibatkan nilai rupiah di masyarakat menjadi turun (inflasi). Masalah kenaikan harga ini belum bisa teratasi akibat permasalahan impor barang yang terhambat.

Pada pembukaan pasar pagi tadi rupiah hingga siang tertekan ke angka Rp. 14.900/Dolar Amerika. Tekanan tersebut diiringi oleh kondisi krisis beberapa sektor ekonomi dalam negeri pada IHSG hari ini.

Nyaris menyentuh angka Rp. 15.000 sebelum penutupan rupiah berhasil rebound kembali ke angka Rp. 14.885/Dolar Amerika. Artinya selama hari ini rupiah terdepresiasi sebanyak 0,13% dari pembukaan hari ini.

Sinyal positif dari non deliverable market (NDF) ternyata belum mampu mendorong penguatan rupiah pada hari ini.

Banyaknya tekanan pada mata uang rupiah selama sepekan ini memberikan sinyal bahwa sangat dimungkinkan rupiah akan nyantol kembali ke Rp. 15.000. Bertengger di sekitaran angka tersebut hingga akhir tahun seperti prediksi gubernur BI.

Pelemahan rupiah pada hari ini kembali membuat Indonesia menjadi negara di Asia dengan pelemahan terbanyak.

Untuk sinyal penguatan untuk perdagangan esok, rupiah harus mendapatkan stimulus yang benar-benar kuat. Tentunya ini belum nampak ada rencana untuk kebijakan pemerintah untuk hari esok. Sentimen negatif pada dolar akibat pernyataan The Fed hanya berlaku pada minat pelaku pasar untuk indeks Amerika.

Kondisi pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh data corona sehingga Indonesia harus bisa survive dan mampu melaksanakan skenario pelonggaran dengan baik. Skenario pelonggaran akan direncanakan pada bulan Juni mendatang.