Moneyfazz
Home » Berita Utama » Rupiah Tertekan Pengaruh Perang Dingin Amerika Dan China

Rupiah Tertekan Pengaruh Perang Dingin Amerika Dan China

Setelah libur 3 hari yaitu pada tanggal 21, 22, dan 25 Mei kemarin. Rupiah pada hari ini kembali diperdagangkan bersama mata uang lainnya.

Prediksi sebelumnya, terkait psikologi pelaku pasar akibat perang dagang antara Amerika dengan China mengakibatkan turunnya kurs mata uang Asia. Termasuk pada rupiah yang hari ini harus dibuka melemah pada pembukaan pagi tadi.

Sebelumnya mata uang Tanah Air, ditutup menguat pada perdagangan pekan kemarin yaitu pada kurs harga Rp. 14.680 per Dolar Amerika. Pada hari ini rupiah dibuka melemah cukup lumayan yaitu berada pada kurs harga Rp. 14.725 per Dolar Amerika.

Pelemahan pada mata uang Asia ini terjadi hampir terjadi sepanjang perdagangan akhir pekan kemarin dan pembukaan Senin lalu. Pelemahan tersebut seiring langkah-langkah Amerika dalam memberikan tekanan kepada pemerintah China yang dirilis belakangan ini.

Seperti rilis kebijakan undang-undang terkait perusahaan investasi luar negeri yang berada di Amerika yang harus tunduk melaporkan keuangannya kepada Amerika. Selanjutnya ada beberapa ancaman mundurnya Trump terkait penelitian corona yang mau tidak mau membuat pasar was-was.

Langkah-langkah offensive Amerika tersebut membuat penguatan greenback. Keterpurukan dolar Amerika terhadap mata uang negara lain langsung berubah menguat sepanjang akhir pekan lalu.

Dapat dilihat indeks Dolar Amerika terhadap mayoritas mata uang utama, per tanggal 20 Mei berada pada 99,18 dan pada 26 Mei naik ke 99,62 atau naik sebanyak 34 poin. Kenaikan ini menunjukkan sentimen positif yang kuat terhadap Dolar dan menimbulkan sentimen sebaliknya terhadap mata uang negara lain termasuk rupiah.

Rupiah sebenarnya belum bergerak secara signifikan atau masih pada mode stagnan selama penjualan sesi pagi ini. Sehingga belum dapat dipastikan apakah akan mengalami penurunan harga kurs atau malah menguat.

Namun secara teknikal rupiah masih bisa alami penguatan bersama dengan mata uang Asia lainnya. Namun pergerakan penguatan tersebut secara teknikal tertahan oleh garis fibo pada harga Rp. 14.730. Garis tersebut ditarik berdasar harga terendah Januari dan tertinggi pada Maret.

Sentimen dari kurs Asia lain pada hari ini sebenarnya sudah berbalik arah untuk menguat melawan dolar. Seperti Won Korsel terhadap Dolar Amerika yang naik sebanyak 0,47%. Rupee India naik sebanyak 0,30%, Peso naik 0,26%. Hanya Yen Jepang yang masih loyo berhadapan dengan sentimen Dolar pada perdagangan pagi ini yaitu turun sebanyak 0,11%.

Sedang sentimen terkait kasus corona di dalam negeri yang sering memberi sentimen negatif pada pergerakan rupiah. 

Diberbagai daerah selama lebaran tidak terjadi lonjakan malah cenderung menurun. Namun prediksi terkait lonjakan kasus setelah lebaran masih menghantui ekonomi dalam negeri.

Add comment

Tinggalkan komentar Anda

Tentang Kami

Untuk informasi kerjasama bisa menghubungi usadailymomenz[at]gmail.com