Cek sekarang! Harga emas hari ini paling update

Sri Mulyani Mulai Soroti 7 BUMN Yang Tekor

Kini perusahaan BUMN mulai mendapat sorotan dari DPR RI. Hal ini terlihat dalam Rapat Kerja (Raker) DPR RI rengan Kementerian BUMN pada Senin (22/6) lalu. 

Dalam Raker tersebut terungkap ada 17 perusahaan BUMN yang mendapatkan suntikan dana bantuan pemerintah dalam rangka Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sebanyak total Rp. 143,63 triliun.

Adapun tujuan dari rapat ini kata Ketua Komisi VI DPR RI Aria Bima yaitu untuk meminta penjelasan kepada perusahaan-perusahaan yang mendapatkan suntikan dana dari pemerintah. Ini terkait dana yang di berikan jumlahnya tidak sedikit.

“Ini bukan jumlah yang kecil jadi kita harus tahu secara detail. Pencairan utang pemerintah 108,48 triliun, PMN (penyertaan modal negara) Rp 15,5 triliun, dana talangan Rp 19,65 triliun,”ungkap Arya dari fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. 

Kemudian ada Perum Bulog sebesar Rp 560 miliar, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) Rp 1 triliun. Sejumlah perusahaan BUMN Karya seperti PT Hutama Karya (Persero), PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR).

Ada  juga PMN sebesar Rp 15,5 triliun yang akan diterima oleh PT Hutama Karya (Persero) Rp 7,5 triliun, PT PNM (Persero) Rp 1,5 triliun, PT BPUI (Persero) Rp 6 triliun dan ITDC sebesar Rp 500 miliar.

Sementara untuk dana talangan sebesar Rp 19,65 triliun dan akan diberikan pada PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) Rp 8,5 triliun, PT KAI Rp 3,5 triliun, Perumnas Rp 650 miliar, PT Krakatau Steel TBK (KRAS) dan juga PT Perkebunan Nusantara (Persero) Rp 4 triliun.

Sehubungan dengan kondisi BUMN ini, menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Komisi XI DPR juga sudah menjadi perhatian. 

“Kalau dari sisi corporate government, kami akan duduk bersama [dengan Kementerian BUMN] untuk merancang perbaiki kinerja BUMN, ungkapnya.

Sri Mulyani juga menyampaikan, pihaknya saat ini memberikan ruang terlebih dahulu kepada Menteri BUMN Erick Thohir dan juga jajarannya untuk melakukan evaluasi BUMN yang sedang merugi. 

Bahkan Sri Mulyan jugai mengungkap ada tujuh BUMN yang merugi pada 2018. Yaitu PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari, PT Sang Hyang Seri, PT PAL, PT Dirgantara Indonesia, PT Pertani, Perum Bulog, dan juga Krakatau Steel.

Untuk persoalan ketujuh BUMN bisa merugi adalah karena berbagai alasan. Diantaranya, kinerja keuangan perusahaan yang tidak efisien dan beberapa persoalan lainnya secara teknis. 

Di sisi lain dari 7 BUMN tersebut, 2 diantaranya sudah menghasilkan laba. 

Sebelumnya bertahun-tahun merugi, Krakatau Steel Tbk menyampaikan proposal laba bersih perseroan di kuartal I-2020 sebesar US$20 juta atau sekitar Rp 320 miliar dengan asumsi kurs Rp 16.000/US$ dibanding dengan periode tahun 2019.

Di sisi lain, PT Dirgantara Indonesia juga mencatatkan laba bersih di tahun 2019. Padahal di 2018 perseroan tersebut menderita kerugian hingga US$38,5 juta. 

Laba bersih PTDI di tahun 2019 tercatat US$ 10,5 juta atau setara dengan Rp 147 miliar. Laba bersih ini dipengaruhi oleh pendapatan perseroan yang naik hingga US$ 259,7 juta atau sekitar Rp 3,64 triliun.