Cek sekarang! Harga emas hari ini paling update

Tantangan Bagi Pelaku dan Pekerja Sektor Manufaktur Sejak PPKM Berlangsung

Sejak Maret 2020, banyak orang sudah mengira bahwa pandemi COVID-19 akan menjadi hantaman kuat bagi perekonomian masyarakat. Pembatasan untuk kegiatan berkumpul dan perjalanan berimbas pada menurunnya pendapat masyarakat. Seperti efek domino, satu per satu sektor usaha terkena imbasnya juga.

Pembatasan pergerakan ini juga berimbas pada semua sektor usaha, termasuk manufaktur. Industri manufaktur sendiri berjasa membuat berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari sembako, pakaian, hingga kebutuhan perangkat elektronik dan otomotif. Adapun beberapa tantangan yang dihadapi oleh perusahaan manufaktur akan dijabarkan lebih jelas berikut ini.

Tantangan Utama Selama PPKM

PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) berlaku sejak 3 Juli 2021. Langkah ini diambil akibat lonjakan kasus COVID-19 yang mengkhawatirkan, seiring dengan masuknya varian Delta. Kebijakan ini diambil pemerintah untuk melindungi masyarakat dari penyebaran penyakit. Hanya saja konsekuensi ekonomi dari kebijakan ini tidak bisa dihindari.

Hantaman terhadap sektor manufaktur ini bisa berakibat pada stabilitas ekonomi nasional. Hal ini mengingat Indonesia masih menjadikan industri manufaktur sebagai penyumbang PDB (produk domestik bruto). Oleh karenanya, pemerintah dan pelaku usaha manufaktur harus siap mengatasi tantangan selama masa pandemi ini.

Berikut adalah tiga garis besar dari tantangan yang dihadapi perusahaan manufaktur selama masa PPKM ini. Jika Anda merupakan salah satu pelaku usaha di sektor manufaktur, Anda pasti sudah mulai merasakan semua tantangan ini.

Terganggunya distribusi bahan baku dan barang jadi

PPKM mengharuskan setiap kendaraan yang melintasi batas kota membawa dokumen atau surat yang menyatakan bahwa mereka memang melakukan perjalanan untuk bekerja. Seperti yang ditulis di republika.co,id, adanya pembatasan ini mengakibatkan terlambatnya supply chain atau pengantaran bahan dari pemasok ke pihak pabrik atau perusahaan. Keterlambatan ini juga mengakibatkan terlambatnya distribusi barang ke konsumen.

Selain itu, pengiriman barang untuk ekspor juga dipengaruhi oleh menyebarnya varian delta. Hal ini membuat berbagai negara melakukan karantina nasional.

Jika kondisi ini berlanjut dalam waktu lama, ditakutkan pendapatan dari sektor ini akan menurun. Selain itu, terganggunya distribusi barang juga bisa mempengaruhi minat investor di sektor manufaktur. Walaupun pemerintah memberikan dukungan finansial pada pelaku usaha, namun hal itu tidak efektif untuk dilakukan dalam jangka panjang.

Menurunnya konsumsi masyarakat

Dampak ekonomi yang dihadapi masyarakat akibat pandemi berakibat juga pada menurunnya daya beli. Hal ini akhirnya berpengaruh pada penghasilan dari perusahaan manufaktur. Ancaman menurunnya omzet ditakutkan dapat berakibat ke aspek lainnya seperti pekerja dan operasional.

Dalam mengatasi hal ini pemerintah memberikan stimulus untuk menjaga daya beli masyarakat. Namun dengan kondisi ekonomi saat ini, masyarakat lebih berhati-hati dalam belanja. Hal ini karena bagi orang yang pendapatannya berkurang, mereka akan memangkas pos pengeluaran rumah tangganya walaupun sudah mendapat bantuan pemerintah.

Tantangan penurunan daya beli masyarakat ini ditakutkan berimbas negatif terutama pada pengusaha manufaktur menengah, seperti pengusaha konveksi. Dengan jumlah penjualan menurun, mereka tetap memiliki pengeluaran yang sama untuk operasional dan membayar karyawannya.

Pemutusan hubungan kerja

Tentunya sejak awal muncul berita tentang PPKM ini hal yang paling dikhawatirkan adalah adanya gelombang PHK (pemutusan hubungan kerja). Dalam hal ini yang menjadi perhatian utama adalah keberlangsungan hidup karyawan dan buruh.

Pendapatan yang menurun bisa menyulitkan perusahaan dalam membayar upah karyawan dan buruhnya. Apalagi untuk operasional manufaktur di sektor non esensial, yang mungkin saja tidak dapat beroperasi selama PPKM. Ditakutkan pengurangan jam kerja dan aturan bekerja dari rumah ini berimbas pada pemotongan gaji dan PHK.

Tiga tantangan di atas memang sudah diprediksi akan muncul bersamaan dengan adanya PPKM ini. Oleh karena itu, pihak pengusaha dan pemerintah menyiapkan beberapa langkah untuk menghadapi kendala selama pandemi. Apalagi mengingat PMI (Purchasing Managers Index) manufaktur Indonesia di bulan Juli 2021 menurun jadi 40,1. Padahal di bulan Juni 2021 angkanya masih di 53,5. Hal ini secara umum menunjukkan menurunnya kinerja industri manufaktur selama PPKM.

Pekerja pabrik

Apa yang Bisa Dilakukan Kalau Anda Bekerja di Perusahaan Manufaktur?

Ada beberapa hal yang diupayakan pemerintah unutk menghadapi masa PPKM ini. Terutama untuk menghindari terjadinya gelombang PHK buruh dan karyawan. Kalau hal ini terjadi, daya beli masyarakat akn makin menurun. Berikut ini informasi yang bisa Anda simak sebagai seorang pekerja, baik buruh maupun karyawan.

BSU

Salah satu bantuan dari pemerintah untuk membendung PHK adalah dengan pemberian BSU (Bantuan Subsidi Upah). Di mana bantuan ini berupa dana yang ditransfer ke rekening pekerja sebesar Rp 1 juta, dengan rincian BSU Rp 500 ribu per bulan untuk dua bulan. Adapun syarat bagi pekerja yang ingin mendapatkan bantuan ini adalah warga negara Indonesia yang dibuktikan dengan KTP dan memiliki kartu BPJS Ketenagakerjaan yang aktif. Hubungi pihak personalia kantor Anda untuk mengetahui proses pengajuannya.

Kebijakan ini memang dapat membantu pelaku usaha. Namun, ketidakpastian sampai kapan pandemi ini berlangsung tentunya memaksa pengusaha dan pemerintah untuk mencari solusi lainnya. Terutama, solusi yang bisa dilaksanakan untuk jangka panjang.

Vaksinasi

Pastikan Anda sudah divaksin. Hal ini bermanfaat untuk menjamin keselamatan Anda saat harus kembali bekerja. Para pelaku usaha manufaktur melalui berbagai asosiasi sendiri sudah mengajukan permintaan pada pemerintah untuk mengizinkan mereka tetap beroperasi. Terutama untuk industri manufaktur di sektor non esensial. Pihak perusahaan harus bisa menjaga protokol kesehatan termasuk mempekerjakan buruh dan karyawan yang sudah divaksin.

Biasanya bagian HRD atau personalia akan mendata diri Anda untuk mendapatkan vaksin COVID-19. jadi, jangan sampai Anda melewatkan jadwal vaksin Anda.

Pandemi menjadikan segala sesuatunya tidak pasti. Oleh karena itu, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah berdaptasi dengan kondisi sekarang. Carilah informasi yang bisa membantu Anda untuk bertahan di tengah keadaan ekonomi saat ini.