Moneyfazz
Home » Berita Utama » Tekanan Ekonomi, Antara Stimulus dan Tuntutan Pengusaha

Tekanan Ekonomi, Antara Stimulus dan Tuntutan Pengusaha

Efek domino corona terhadap ekonomi global termasuk Indonesia sangat terasa tekanannya. Akibat kekhawatiran penularan banyak industri memberhentikan produksi, merumahkan pegawai, hingga melakukan pemutusan hubungan kerja.

Hal tersebut tentu mengakibatkan kembali runtuhnya ekonomi global pasca krisis ekonomi tahun 2008-2009 yang lalu. Tak hanya Indonesia yang mengalami tekanan pada segi Industri. Tekanan corona di Amerika Serikat  pada sektor industri mengakibatkan gelombang phk yang sangat tinggi. Tercatat sudah 30 Juta warga Amerika yang mengalami PHK dan kini menjadi pengangguran.

di Indonesia sendiri sampai hari ini masih terjadi gelombang PHK yang cukup masif. Tak hanya industri-industri besar namun perusahaan-perusahaan ternama hingga beberapa startup kini mulai melakukan PHK karyawannya.

Tercatat 1,7 juta karyawan sudah di PHK atau dirumahkan oleh perusahaannya seperti disampaikan oleh Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah. Jumlah yang cukup besar dan masih terus bertambah hingga hari ini.

Kekhawatiran untuk terus melakukan produksi muncul semenjak mencuatnya kasus karyawan positif corona di PT HM Sampoerna Tbk. Lainnya adalah kasus karyawan pabrik rokok Simustika Tulungagung yang hampir sama seperti kasus HM Sampoerna.

Hal tersebut menimbulkan tekanan pada pemilik Industri apabila meneruskan produksi pada masa pandemi akan penuh resiko. Sehingga mau tidak mau harus merumahkan karyawan. Namun apabila tidak memberikan hak karyawan maka perusahaan menyalahi aturan.

Inilah yang menyebabkan gelombang PHK yang masif saat pandemi corona. Lumpuhnya daya beli masyarakat ditambah kekhawatiran penularan hingga tidak mampu membayar gaji karyawan adalah penyebabnya.

Prediksi pemulihan ekonomi Indonesia pasca corona diprediksi akan membutuhkan waktu yang panjang. Walaupun saat ini sentimen pasar spot terhadap rupiah bagus. Namun kondisi dalam negeri cukup terpuruk.

Hal ini menyebabkan beberapa pengusaha menuntut Presiden Jokowi untuk membentuk gugus tugas khusus ekonomi.

Hal ini disampaikan oleh wakil ketua HIPMI, Eka Sastra bahwa Indonesia saat ini tidak hanya butuh gugus kesehatan semata. Namun melihat keterpurukan sektor ekonomi maka gugus tugas ekonomi sangat diperlukan.

Selain itu gugus tugas ini juga berperan sebagai jembatan antara pengusaha dengan investor atau kreditur. Yang mana pengusaha banyak yang mengeluh banyak bank menolak permohonan penangguhan pembayaran kredit.

Lainnya adalah kebijakan Presiden Jokowi saat membuka Musrenbangnas 2020. Beliau mengatakan bahwa akan memberikan stimulus bagi pengusaha yang tidak melakukan PHK.

Beliau mengatakan bahwa pemerintah daerah harus memetakan pengusaha mana yang masih belum melakukan PHK dan saat ini membutuhkan stimulus apa negara membantu. Jadi stimulus tidak hanya dalam bentuk stimulus ekonomi.

Tambahan dari Bapak Presiden adalah jangan sampai perusahaan masih tetap melakukan PHK namun mau menerima bantuan dari negara. Ini harus menjadi kehati-hatian pemerintah daerah.

Add comment

Tinggalkan komentar Anda

Tentang Kami

Untuk informasi kerjasama bisa menghubungi usadailymomenz[at]gmail.com